Rabu, 05 Juni 2013

Tips Menangani Anak Kedua yang “Unik dan Penuh Pesona”

Azka Azzahra, anak kedua.


Anak kedua, khususnya yang memiliki kakak dengan jenis kelamin yang sama, apalagi  jika sang “kedua” memiliki adik dengan jenis kelamin berbeda, maka hampir dapat dipastikan memiliki karakter yang “unik” sendiri, dan jika disalah artikan, maka keunikan sifat anak kedua dapat dianggap negatif. Padahal yang sebenarnya, pesona anak kedua ada pada keunikannya, yang memang berbeda dengan saudara saudaranya yang lain.

“Pesona dan Keunikan” anak kedua ini sudah lama saya selami, bahkan sebelum memiliki anak sendiri. Banyak sahabat dan keluarga dekat yang kebetulan adalah “anak kedua”,sebagian besar memiliki ciri khas tersendiri yang justru di mata saya membuat mereka mempesona dan berkarakter.

Pengamatan saya memang benar benar terwujud, karena kemudian saya dikaruniakan tiga orang anak, si sulung Russell, menyusul Reinhart yang hanya berselisih sebelas bulan, dan empat tahun sesudahnya, Krystle  putri   kami lahir.

Artikel ini bukan untuk membedakan perhatian dan rasa cinta saya sebagai seorang ibu kepada ketiga anak saya, tetapi harus saya katakan bahwa sekiranya saya menulis tentang Russell, maka sebagian besar yang membaca malahan akan menganggap tulisan saya sebagai pujian berlebihan seorang ibu kepada anaknya.

Apa enaknya membaca isi artikel yang isinya memuji muji anak sendiri sebagai anak yang baik, patuh, pintar, sopan, penurut, sabar dan seribu “kebaikan” lainnnya ?. Setiap orang tua, apalagi ibu ibu jika  menulis tentang anak laki lakinya, maka isinya dapat disimpulkan bahwa  “Tidak seorangpun bisa lebih gagah, pintar, dan super daripada anak laki laki saya.” Mungkin merupakan kebalikannya  jika bapak bapak disuruh menulis soal putrinya.

Oleh karena itu saya mau menulis soal anak kedua saya Reinhart, dari sisi keunikan karakternya yang kritis dan terus terang.  Anak saya ini memang menggemaskan sikapnya, antara hangat dan “cuek”, dan juga memiliki selera petualangan dan sudut pandang yang selalu berbeda dari yang lain.

Contoh yang paling saya ingat sekali adalah ketika dia berumur empat tahun, dan kami sekeluarga ke gereja, duduk mendengarkan “khotbah” yang bertemakan kasih dan kesabaran. Dalam khotbah itu, pastor kemudian mengutip dan menjelaskan sepenggal ayat dari Alkitab yang isinya kurang lebih :  Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Jika seseorang menampar pipi kirimu, maka berilah yang kanan.

Reinhart yang duduk tepat disamping saya kemudian mencolek lengan saya dan berkata, ” ini sungguh stupid Mum. Seharusnya kalau ditampar pipi kiri, mundur dulu sedikit, dan maju gebukin kepalanya sekalian. Kenapa malah harus diberikan yang kanan juga ?.”

Kami berdua hampir diusir dari dalam gereja karena tidak dapat berhenti tertawa , karena saya sendiri sejujurnya tidak dapat menahan tawa saya yang meledak, dan tepat seperti yang dipikirkan Reinhart, mohon maaf, saya sebagai manusia dengan segala kekurangan, rasanya belum bisa mempraktekkan seperti yang diajarkan di dalam Injil.

Mungkin paling tidak saya mengalah atau menghindar, tapi memberi pipi yang lain ?. Wah nanti dulu.. itu kita atur urusannya di lapangan parkir, dengan waktu yang bisa dibicarakan.

Jadi kira kira seperti itulah sifat Reinhart sebagai anak kedua, yang  mempertanyakan dan kritis terhadap segala sesuatu. Motto kakaknya ketika bertanya selalu , “Mengapa ?”, tapi Reinhart justru kebalikannya “Mengapa Tidak ?”. 

Sifat petualangannya memang besar, terlahir sebagai anak kedua, dia bisa lebih bebas “ngeluyur” karena kakaknya memang otomatis menjadi pusat segala perhatian, termasuk sebagai cucu pertama dari kedua belah pihak keluarga kami.

Anak kedua memang sering merasa mereka harus berbeda untuk menarik perhatian, dan jengkel karena masyarakat sendiri selalu cenderung membanding bandingkan dengan kakaknya.  Sebenarnya justru dari keinginan mereka untuk “berbeda” dan ingin membuktikan sesuatu, maka sifat suka tantangan dan senang berkompetisi menjadi suatu bawaan sifat yang secara tidak sadar terbentuk sedari kecil.

Nah sebagai orang tua, seringnya kita malah langsung mengasosiasikan “perbedaan dan keunikan” ini dengan “kenakalan”. Padahal sekiranya kita bisa lebih memahami, maka seperti hubugan saya dengan Reinhart yang selalu hangat dan mesra, saya merasa anak kedua justru sangat menantang untuk dipahami, dan ketika mereka merasa diterima dan dimengerti, sifat sifat yang tadinya berbeda itu akan mengerucut menjadi bawaan yang positif dalam keunikannya.



Berikut ini adalah lima tips yang saya bagikan, mudah mudahan berguna atau paling tidak membuka wawasan untuk mencoba memahami anak kedua.

1.  Cari Kelebihan Yang Dimiliki Anak kedua  Yang Tidak Sama Dengan Kakak Atau Adiknya.  Jangan pelit memberi pujian (lebih baik lagi jika di depan orang lain) . Anak kedua senang dan bahagia dianggap berbeda, dan dihargai karena perbedaannya.

2. Jangan Membandingkan  Dirinya Dengan Siapapun. Sepanjang hidupnya karena terlahir sebagai anak kedua, dia akan sangat sering mendengar oang luar membanding bandingkan dirinya dengan kakak atau adiknya. Dia tidak perlu mendengar itu lagi dari anda sebagai orang tua. Hargai dia sebagaimana adanya.

3. Ambil Waktu Khusus Yang Memang Hanya Diperuntukkan Bagi Anak Kedua. Apakah itu pergi menonton film berdua, belanja berdua, atau sekedar jalan pagi berdua. Anak kedua perlu merasa dia mendapatkan tempat yang istimewa di hati anda, dan tidak tergantikan oleh siapapun.

4. Dengarkan Dengan Seksama Dan Pancing Minatnya Untuk Bercerita. Anak kedua sesunggguhnya ingin didengarkan. Mereka sudah cukup “capek” selalu harus menunggu giliran bicara  sesudah kakaknya.  Hal inilah yang justru membuat mereka kadang terlihat enggan dan malas mengekspresikan dirinya, karena kelamaan menunggu, dan pada umumnya si sulung lebih didengar pendapatnya.

5. Tanamkan Prinsip Dalam Keluarga Anda Bahwa Tidak Selalu Yang Lebih Tua Itu Benar. Ini tidak ada kaitannya dengan kesopanan, karena mengoreksi  yang salah, bukan juga harus dengan cara tidak sopan. Ajari anak kedua untuk mengungkapkan ketidak setujuannya akan sesuatu dengan cara yang sopan.

Intinya adalah anak kedua itu memang unik dan berbeda, karena ketika mereka lahir, orang tua sudah memiliki “standard” yang diambil dari si sulung. Inilah yang sebenarnya kurang disukai anak kedua. Mereka tidak suka dibandingkan.   Mereka ingin dihargai dan dicintai sebagaimana adanya, dan bukan karena meng-copy kebaikan kakaknya.

Akhir kata saya katakan kepada sesama orang tua, untuk menikmati keunikan anak kedua anda sepenuhnya. Akan ada saatnya anda benar benar merindukan kehadiran sosoknya yang memang lain dari yang lain, dan justru karena perbedaanya itu, orang tua dapat belajar untuk memahami bahwa dalam perbedaan itu ada kebaikan dan keindahan. ***

***Catatan Tambahan :

-Keunikan anak kedua dalam artikel ini adalah berdasarkan pengamatan pribadi, dan interview yang dilakukan oleh saya sebagai penulis.  Dan sampel yang diamati adalah mayoritas anak kedua yang perbedaan umurnya dibawah  tiga tahun dengan kakaknya si sulung.

- Jika anak kedua adalah termasuk anak tunggal, misalnya laki laki diantara dua kakak dan adik perempuan, maka sifat “pemberontak”"nya lebih kecil.

- Ini hanya merupakan panduan umum, dan tentu saja dari pengamatan dan teori yang dipakai, selalu ada pengecualian.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar